Kamis, 30 Oktober 2014

Pada Sebuah Hari Perpisahan

Pada sebuah hari, aku berlindung di bawah
Sandiwara hujan-hujan yang datang tanpa tentu,
Yang muncul pada waktu-waktu mengingatmu.
Pada sebuah hari, aku terkenang pikuk manismu
Dalam sela-sela jam istirahat, jam makan siang dan jam belajar.

Pada sebuah tawa, aku berlindung di antara kakimu yang mungil
Mengenangkan sepucuk rindu dendam
Dan doa-doa yang teramat mulia.

Nak, di dada masing-masing kamu, kutitipkan rindu
Kutitipkan masa kenang yang kadang menusuk ulu hati
Mengumbar catatan maaf dan kisah kita masalalu.
Di mana kala itu kamu tak pernah bisa berhenti bicara
Selalu ada kerutan dahi pada mungil-mungil mulutmu
Yang sampai kini, tak kutemukan lagi.

Boleh aku memesankan padamu, jika kelak
Tanamkan jiwa-jiwa kuatmu pada puing ketidakpaduan
Agar ada airmata lagi yang kita teriakkan.
Seperti tawa lepas seekor kupu-kupu yang terbang pada
Garis senja menjelang matahari menutup mata.

Kukenangkan lagi kisah-kisah tangis padamu, pada hari itu
Lagu-lagu menjadi padu, kita nyanyikan bersama.
Tangis-tangis yang menjadi riang kala kita bacakan bersama.
Serta puisi-puisi yang menjadi akrab kala kita kenalkan bersama.

Semoga, pada sebuah hari pertemuan selanjutnya, kita kenangkan dunia yang beda
Dunia dengan panorama yang megah.
Dunia yang di dalamnya ada ribuan layang-layang berjejer dan kita misalkan masalalu
Lantas kita terbangkan pada sore hari, pada hari perpisahan lagi.
Semoga pertemuan lalu kita, adalah tatacara belajar yang baru
Belajar berpesta pada kenangan selanjutnya.
Simpan kisah kenangan itu pada almarimu, biar ketika nanti
Kutanyakan padamu tentang siapa aku.
Kau tak perlu bingun mencari jawaban yang semestinya tentang
Perpisahan yang pernah kita nyanyikan pada puisi.


September 2014 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar