Pada
sebuah hari, aku berlindung di bawah
Sandiwara
hujan-hujan yang datang tanpa tentu,
Yang
muncul pada waktu-waktu mengingatmu.
Pada
sebuah hari, aku terkenang pikuk manismu
Dalam
sela-sela jam istirahat, jam makan siang dan jam belajar.
Pada
sebuah tawa, aku berlindung di antara kakimu yang mungil
Mengenangkan
sepucuk rindu dendam
Dan
doa-doa yang teramat mulia.
Nak,
di dada masing-masing kamu, kutitipkan rindu
Kutitipkan
masa kenang yang kadang menusuk ulu hati
Mengumbar
catatan maaf dan kisah kita masalalu.
Di
mana kala itu kamu tak pernah bisa berhenti bicara
Selalu
ada kerutan dahi pada mungil-mungil mulutmu
Yang
sampai kini, tak kutemukan lagi.
Boleh
aku memesankan padamu, jika kelak
Tanamkan
jiwa-jiwa kuatmu pada puing ketidakpaduan
Agar
ada airmata lagi yang kita teriakkan.
Seperti
tawa lepas seekor kupu-kupu yang terbang pada
Garis
senja menjelang matahari menutup mata.
Kukenangkan
lagi kisah-kisah tangis padamu, pada hari itu
Lagu-lagu
menjadi padu, kita nyanyikan bersama.
Tangis-tangis
yang menjadi riang kala kita bacakan bersama.
Serta
puisi-puisi yang menjadi akrab kala kita kenalkan bersama.
Semoga,
pada sebuah hari pertemuan selanjutnya, kita kenangkan dunia yang beda
Dunia
dengan panorama yang megah.
Dunia
yang di dalamnya ada ribuan layang-layang berjejer dan kita misalkan masalalu
Lantas
kita terbangkan pada sore hari, pada hari perpisahan lagi.
Semoga
pertemuan lalu kita, adalah tatacara belajar yang baru
Belajar
berpesta pada kenangan selanjutnya.
Simpan
kisah kenangan itu pada almarimu, biar ketika nanti
Kutanyakan
padamu tentang siapa aku.
Kau
tak perlu bingun mencari jawaban yang semestinya tentang
Perpisahan
yang pernah kita nyanyikan pada puisi.
September
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar