Sempat
aku berupaya meninggalkanmu, atau
Membunuhmu
dengan racun yang telah kusediakan
Pada
kenang mimpi malam itu.
Bukankah
kita dahulu begitu akrab, menyandingkan
Berbagai
macam teka-teki yang tak terpecahkan
Ihwal
bayang yang tak sempat terjabarkan.
Kadang
aku mengenangmu sebagai catatan kecil yang lapuk
Datang
pada jam-jam yang lelah menunggu
karamnya
kapal besar pada pulau tak bertepi.
Kita
sempat dicerca mengenai siapa sebenarnya cerita
Lantas
kau diam saja, menyuruhku berkata
Bahwa
sesungguhnya kita bukanlah sepasang
Mata
yang tau pada jejak mana mimpi berada sesungguhnya.
Kepada
puisi, kugambar ketiadaanmu lagi pada hari ini
Biar
kita saling paham bahwa lewat jalan itu kita diam
Kita
berlomba untuk mentertawakan lukisan
Yang
terpahat pada dinding waktu sesungguhnya.
Yogyakarta
27 Oktober 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar