Jika semua hari adalah kapal-kapal berserakan di antara
seribu pelabuhan yang tercecer dan pulau-pulau yang
memersembahkan kesunyian dan matahari terbenam.
Sementara kamu mengepak sayap berjingkat dengan
sajak yang terdiam di dalam perjalanan dan idiopati kasih sayang.
Mungkin kita serupa gerombol camar yang terlupa
dalam langit sore yang memersembahkan pesta
Lalu dua juta cahaya berlarian menerpa mata
ketika tahu kita belum pernah memiliki makna-makna
yang kini merambah menghujat pada waktu dan sapa.
Di sepanjnag kehidupan kita akan ada ribuan pesta
yang mesti kita semua persembahkan di antara
pertapa para pujangga dan doa yang berlayar.
Wonosari Agustus 2012
terinspirasi dari cerpen Ujung Kehidupan karya Alviyo.
Pada sebuah dunia manusia berbondong-bondong mengantarkan cinta luka tawa duka dan jerit dari masing-masing telinga sementara sebagian lainnya sibuk dengan kebutaan dan tulinya pada lagu-lagu pencerita ihwal doa yang tak beranjak dari tempat tidurnya sedari waktu-waktu sebelum kita sadar.
Jumat, 31 Oktober 2014
Kamis, 30 Oktober 2014
Catatan Cerita
Sempat
aku berupaya meninggalkanmu, atau
Membunuhmu
dengan racun yang telah kusediakan
Pada
kenang mimpi malam itu.
Bukankah
kita dahulu begitu akrab, menyandingkan
Berbagai
macam teka-teki yang tak terpecahkan
Ihwal
bayang yang tak sempat terjabarkan.
Kadang
aku mengenangmu sebagai catatan kecil yang lapuk
Datang
pada jam-jam yang lelah menunggu
karamnya
kapal besar pada pulau tak bertepi.
Kita
sempat dicerca mengenai siapa sebenarnya cerita
Lantas
kau diam saja, menyuruhku berkata
Bahwa
sesungguhnya kita bukanlah sepasang
Mata
yang tau pada jejak mana mimpi berada sesungguhnya.
Kepada
puisi, kugambar ketiadaanmu lagi pada hari ini
Biar
kita saling paham bahwa lewat jalan itu kita diam
Kita
berlomba untuk mentertawakan lukisan
Yang
terpahat pada dinding waktu sesungguhnya.
Yogyakarta
27 Oktober 2014
Hari Esok
:kepada teman
baik, cerita masa lalu
Hari
ini kita bukan lagi sebuah bebatu di pinggir laut
yang
menanti datangnya lesapan angin pantai yang megah
Kita
sepotong pasir-pasir yang datang mengucap selamat
pada
angin atas senja yang begitu indah.
Adakalanya
kita tak beranjak dari waktu yang lalu
dari
cerita yang membawa kita pada alunan lagu cinta.
Kadang,
aku bertanya pada catatan cerita kosong
ketika
malam hujan dan waktu tak beranjak pada garis luang
Ia
terus saja melangkah pada jejak yang tak sebenarnya
membawamu
entah ke mana. Lantas menghilang
pada
senja yang terbit sia-sia.
Yogyakarta
27 Oktober 2014
Pada Sebuah Hari Perpisahan
Pada
sebuah hari, aku berlindung di bawah
Sandiwara
hujan-hujan yang datang tanpa tentu,
Yang
muncul pada waktu-waktu mengingatmu.
Pada
sebuah hari, aku terkenang pikuk manismu
Dalam
sela-sela jam istirahat, jam makan siang dan jam belajar.
Pada
sebuah tawa, aku berlindung di antara kakimu yang mungil
Mengenangkan
sepucuk rindu dendam
Dan
doa-doa yang teramat mulia.
Nak,
di dada masing-masing kamu, kutitipkan rindu
Kutitipkan
masa kenang yang kadang menusuk ulu hati
Mengumbar
catatan maaf dan kisah kita masalalu.
Di
mana kala itu kamu tak pernah bisa berhenti bicara
Selalu
ada kerutan dahi pada mungil-mungil mulutmu
Yang
sampai kini, tak kutemukan lagi.
Boleh
aku memesankan padamu, jika kelak
Tanamkan
jiwa-jiwa kuatmu pada puing ketidakpaduan
Agar
ada airmata lagi yang kita teriakkan.
Seperti
tawa lepas seekor kupu-kupu yang terbang pada
Garis
senja menjelang matahari menutup mata.
Kukenangkan
lagi kisah-kisah tangis padamu, pada hari itu
Lagu-lagu
menjadi padu, kita nyanyikan bersama.
Tangis-tangis
yang menjadi riang kala kita bacakan bersama.
Serta
puisi-puisi yang menjadi akrab kala kita kenalkan bersama.
Semoga,
pada sebuah hari pertemuan selanjutnya, kita kenangkan dunia yang beda
Dunia
dengan panorama yang megah.
Dunia
yang di dalamnya ada ribuan layang-layang berjejer dan kita misalkan masalalu
Lantas
kita terbangkan pada sore hari, pada hari perpisahan lagi.
Semoga
pertemuan lalu kita, adalah tatacara belajar yang baru
Belajar
berpesta pada kenangan selanjutnya.
Simpan
kisah kenangan itu pada almarimu, biar ketika nanti
Kutanyakan
padamu tentang siapa aku.
Kau
tak perlu bingun mencari jawaban yang semestinya tentang
Perpisahan
yang pernah kita nyanyikan pada puisi.
September
2014
Langganan:
Komentar (Atom)