Jumat, 31 Oktober 2014

Jika Semua Hari Adalah Satu Hari Terakhir Sebelum Kamu Pergi

Jika semua hari adalah kapal-kapal berserakan di antara
seribu pelabuhan yang tercecer dan pulau-pulau yang
memersembahkan kesunyian dan matahari terbenam.
Sementara kamu mengepak sayap berjingkat dengan
sajak yang terdiam di dalam perjalanan dan idiopati kasih sayang.

Mungkin kita serupa gerombol camar yang terlupa
dalam langit sore yang memersembahkan pesta
Lalu dua juta cahaya berlarian menerpa mata
ketika tahu kita belum pernah memiliki makna-makna
yang kini merambah menghujat pada waktu dan sapa.

Di sepanjnag kehidupan kita akan ada ribuan pesta
yang mesti kita semua persembahkan di antara
pertapa para pujangga dan doa yang berlayar.

Wonosari Agustus 2012
terinspirasi dari cerpen Ujung Kehidupan karya Alviyo.

Kamis, 30 Oktober 2014

Catatan Cerita

Sempat aku berupaya meninggalkanmu, atau
Membunuhmu dengan racun yang telah kusediakan
Pada kenang mimpi malam itu.
Bukankah kita dahulu begitu akrab, menyandingkan
Berbagai macam teka-teki yang tak terpecahkan
Ihwal bayang yang tak sempat terjabarkan.

Kadang aku mengenangmu sebagai catatan kecil yang lapuk
Datang pada jam-jam yang lelah menunggu
karamnya kapal besar pada pulau tak bertepi.
Kita sempat dicerca mengenai siapa sebenarnya cerita
Lantas kau diam saja, menyuruhku berkata
Bahwa sesungguhnya kita bukanlah sepasang
Mata yang tau pada jejak mana mimpi berada sesungguhnya.

Kepada puisi, kugambar ketiadaanmu lagi pada hari ini
Biar kita saling paham bahwa lewat jalan itu kita diam
Kita berlomba untuk mentertawakan lukisan
Yang terpahat pada dinding waktu sesungguhnya.



Yogyakarta 27 Oktober 2014

Hari Esok

:kepada teman baik, cerita masa lalu

Hari ini kita bukan lagi sebuah bebatu di pinggir laut
yang menanti datangnya lesapan angin pantai yang megah
Kita sepotong pasir-pasir yang datang mengucap selamat
pada angin atas senja yang begitu indah.

Adakalanya kita tak beranjak dari waktu yang lalu
dari cerita yang membawa kita pada alunan lagu cinta.
Kadang, aku bertanya pada catatan cerita kosong
ketika malam hujan dan waktu tak beranjak pada garis luang
Ia terus saja melangkah pada jejak yang tak sebenarnya
membawamu entah ke mana. Lantas menghilang
pada senja yang terbit sia-sia.


Yogyakarta 27 Oktober 2014

Pada Sebuah Hari Perpisahan

Pada sebuah hari, aku berlindung di bawah
Sandiwara hujan-hujan yang datang tanpa tentu,
Yang muncul pada waktu-waktu mengingatmu.
Pada sebuah hari, aku terkenang pikuk manismu
Dalam sela-sela jam istirahat, jam makan siang dan jam belajar.

Pada sebuah tawa, aku berlindung di antara kakimu yang mungil
Mengenangkan sepucuk rindu dendam
Dan doa-doa yang teramat mulia.

Nak, di dada masing-masing kamu, kutitipkan rindu
Kutitipkan masa kenang yang kadang menusuk ulu hati
Mengumbar catatan maaf dan kisah kita masalalu.
Di mana kala itu kamu tak pernah bisa berhenti bicara
Selalu ada kerutan dahi pada mungil-mungil mulutmu
Yang sampai kini, tak kutemukan lagi.

Boleh aku memesankan padamu, jika kelak
Tanamkan jiwa-jiwa kuatmu pada puing ketidakpaduan
Agar ada airmata lagi yang kita teriakkan.
Seperti tawa lepas seekor kupu-kupu yang terbang pada
Garis senja menjelang matahari menutup mata.

Kukenangkan lagi kisah-kisah tangis padamu, pada hari itu
Lagu-lagu menjadi padu, kita nyanyikan bersama.
Tangis-tangis yang menjadi riang kala kita bacakan bersama.
Serta puisi-puisi yang menjadi akrab kala kita kenalkan bersama.

Semoga, pada sebuah hari pertemuan selanjutnya, kita kenangkan dunia yang beda
Dunia dengan panorama yang megah.
Dunia yang di dalamnya ada ribuan layang-layang berjejer dan kita misalkan masalalu
Lantas kita terbangkan pada sore hari, pada hari perpisahan lagi.
Semoga pertemuan lalu kita, adalah tatacara belajar yang baru
Belajar berpesta pada kenangan selanjutnya.
Simpan kisah kenangan itu pada almarimu, biar ketika nanti
Kutanyakan padamu tentang siapa aku.
Kau tak perlu bingun mencari jawaban yang semestinya tentang
Perpisahan yang pernah kita nyanyikan pada puisi.


September 2014